Menciptakan bio-ekonomi berkelanjutan di Kalimantan
COLUMNS

Menciptakan bio-ekonomi berkelanjutan di Kalimantan

Menciptakan bio-ekonomi berkelanjutan di Kalimantan

Secara global, hampir setengah dari minyak nabati dunia digunakan untuk tujuan teknis, dengan sekitar seperempatnya berasal dari minyak sawit dan minyak inti sawit. – Foto bernama

Borneo dengan cepat kehilangan ‘keunggulan komparatifnya’ di sektor berbasis lahan, yaitu lahan murah yang luas karena meningkatnya kekhawatiran akan keberlanjutan dan kedekatannya dengan pekerja murah dari pulau-pulau tetangga.

Risiko dari ketergantungan yang berlebihan pada produk primer seperti minyak sawit dan kayu juga dicontohkan bersamaan dengan naik turunnya harga komoditas dalam dua dekade terakhir.

Menyadari kemacetan, wilayah Kalimantan telah menunjukkan tekad mereka dalam merekonstruksi lintasan pembangunan berbasis lahan yang tidak berkelanjutan dan eksploitatif. Ambisi tersebut tidak hanya memerlukan strategi konvensional untuk meningkatkan produksi primer tetapi juga langkah yang lebih berani dalam mendorong perubahan struktural.

Salah satu cara untuk maju adalah dengan mengembangkan dan meningkatkan kegiatan hilir berbasis bio.

Idenya adalah untuk menciptakan dan menjaga nilai tambah di wilayah tersebut. Diharapkan realokasi kegiatan ekonomi dan diversifikasi sumber pendapatan akan memungkinkan Borneo untuk keluar dari lingkaran setan eksploitasi lahan yang tidak berkelanjutan. Istilah ‘bio-ekonomi’ telah banyak digunakan untuk menggambarkan transformasi semacam itu.

Konsep ini berkembang seputar substitusi bahan berbasis fosil dengan sumber daya hayati menggunakan pengetahuan biologi mutakhir dan inovasi teknologi. Spektrum strategi bioekonomi sangat luas, mencakup berbagai komponen dari hulu, misalnya mengintensifkan produksi primer ke hilir, misalnya menciptakan produk dan pasar baru berbasis bio.

Langkah alami Borneo untuk meningkatkan ketahanan ekonominya adalah dengan menumbuhkan industri oleokimia berbasis kelapa sawit lokal. Secara global, hampir setengah dari minyak nabati dunia digunakan untuk tujuan teknis, dengan sekitar seperempatnya berasal dari minyak sawit dan minyak inti sawit.

Khususnya, penggunaan nonmakanan di Indonesia telah meningkat secara substansial. Sebagian besar dikonsumsi dalam industri kimia, dengan jumlah yang relatif kecil dikhususkan untuk produksi biofuel. Beberapa oleokimia utama yang dihasilkan adalah asam lemak, alkohol lemak, metil ester, gliserin, dan mie sabun.

Pasar potensial lainnya termasuk oleokimia khusus dengan harga tinggi yang dapat digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, dan makanan, seperti ester asam amino dan -karoten.

Baik Sabah maupun Sarawak telah mencapai kapasitas penyulingan sebesar 11,2 juta ton pada tahun 2019.

Namun, tidak ada pabrik oleokimia yang maju, meskipun Peninsula mencapai kapasitas 2,7 juta ton menurut MPOB. Situasi di Kalimantan tidak diketahui dengan jelas, tetapi di tingkat negara, perkembangannya dilaporkan cukup besar dalam sepuluh tahun terakhir.

Sekitar 74% minyak sawit yang diekspor negara pada 2019, atau sekitar 20 juta ton, adalah minyak sawit olahan.

Indonesia juga melihat industri oleokimia tumbuh cepat dengan kapasitas tahunan 11,3 juta ton, meskipun mayoritas berada di luar Kalimantan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kebijakan insentifnya seperti pungutan kelapa sawit, tunjangan pajak, pembebasan pajak, dan biaya energi yang lebih rendah.

Jalur pembangunan lain mungkin adalah valorisasi sumber daya hayati bernilai rendah yang dihasilkan dari sektor berbasis lahan. Ini termasuk kulit inti sawit, tandan buah kosong, residu kehutanan, dll., yang secara kolektif disebut ‘biomassa’.

Secara kasar, pulau ini menghasilkan sekitar 75 juta ton kering biomassa per tahun, dengan hampir setengahnya berasal dari Sabah dan Sarawak. Ini belum termasuk beberapa juta ton batang kelapa sawit yang dihasilkan dari penanaman kembali.

Ketertarikan pada biomassa dan konsep biorefinery yang lebih luas muncul di Kalimantan pada tahun 2010-an, dengan meningkatnya permintaan di Jepang dan Korea. Kedua negara telah menerapkan kebijakan untuk mengganti sebagian batubara dengan biomassa di pembangkit listrik mereka. Eksplorasi lebih lanjut juga telah dilakukan untuk mengubah biomassa menjadi biofuel generasi kedua, bahan kemasan, bioplastik, bahan kimia drop-in, dan bahan kimia baru.

Di Sabah dan Sarawak, strategi khusus negara bagian diluncurkan pada tahun 2016 di bawah Strategi Biomassa Nasional (NBS) Malaysia 2020 untuk mengembangkan industri berbasis biomassa bernilai tambah tinggi dalam negeri dengan menghargai residu pertanian dan kehutanan. Awalnya, rencana dibuat untuk produksi pelet energi, didorong oleh skema Feed-in-Tariff untuk bioenergi di pasar Malaysia dan luar negeri.

Menariknya, Indonesia baru-baru ini mulai mengeksplorasi biomassa co-firing untuk pembangkit listrik guna mengurangi konsumsi batu baranya. Namun, tidak jelas apakah insentif akan diberikan oleh pemerintah dalam waktu dekat, terutama mengingat Kalimantan Timur adalah produsen utama batu bara.

Selain residu padat, valorisasi limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) juga patut ditelusuri. POME harus diperlakukan dengan hati-hati untuk menghindari pencemaran serius sumber daya air Kalimantan serta mengurangi pelepasan metana, gas rumah kaca utama, ke atmosfer.

Dua opsi menarik sedang dijajaki. Salah satunya adalah menangkap metana untuk produksi biogas.

Salah satunya adalah mengekstraksi dan mengubah kandungan minyak dari POME menjadi biofuel cair, yang berpotensi termasuk bahan bakar penerbangan.

Sampai saat ini, mobilisasi besar-besaran residu kelapa sawit belum terealisasi. Biaya logistik sering disebut-sebut sebagai masalah utama. Sementara itu, penyebaran sistem pengolahan POME dan MSW yang canggih juga lambat karena kendala keuangan.

Namun, peran potensial dari biorefineries maju mungkin tidak hanya sekedar keuntungan, terutama dalam menangani masalah pengelolaan limbah dan membangun fondasi untuk inovasi dalam industri bioteknologi. Mengingat kepentingan strategis jangka panjangnya, gagasan untuk mengembangkan biorefinery canggih di Kalimantan tidak boleh dibuang begitu saja.

Kalimantan tidak perlu ragu untuk mengejar perubahan struktural dalam pertumbuhan guna mencapai aspirasinya untuk pembangunan berkelanjutan. Bioekonomi yang berkelanjutan tidak hanya mengurangi tekanan yang cukup besar pada alam pulau tetapi juga melindungi ekonomi dari naik turunnya komoditas primer. Semoga juga dapat memberikan lapangan pekerjaan yang menguntungkan bagi masyarakat lokal dan menumbuhkan dan melestarikan bakat lokal.

Memang, dibutuhkan waktu bagi Borneo untuk mengembangkan ‘bio-ekonomi’ versinya sendiri. Prasyaratnya adalah ekosistem pembangunan industri yang lebih dinamis dengan kolaborasi lintas sektoral dan sinergis antara sektor pertanian, kehutanan, energi, kimia, dan pangan.

Visi menciptakan ekonomi digital di Sarawak dapat meletakkan dasar untuk mewujudkan kolaborasi dan potensi integrasi tersebut. Sementara Sarawak dan Sabah juga menikmati lebih banyak keuntungan daripada rekan-rekan mereka di Indonesia karena infrastruktur yang lebih berkembang, pembangunan Nusantara di Kalimantan Timur kemungkinan akan mengarahkan banyak investasi ke provinsi tersebut dalam waktu dekat.

Dalam konteks ini, menjalin kerjasama antar wilayah Kalimantan akan menjadi aspek penting untuk diperhatikan. Hal ini dapat dibangun di atas program yang sudah ada, yaitu ‘Program Perbatasan Ekonomi Wilayah Sabah-Kalimantan Utara’ dan ‘Kerjasama Sosial Ekonomi Malindo’ antara Kalimantan Barat dan Sarawak.

Perlu ditelusuri lebih jauh bagaimana wilayah Kalimantan dapat membentuk ekosistem ‘bio-ekonomi’ yang lebih besar dan rantai nilai regional untuk mendukung aspirasi satu sama lain dalam mentransformasi ekonomi mereka.

dr. Goh Chun Sheng saat ini adalah Pemimpin Program untuk Magister Manajemen Pembangunan Berkelanjutan di Jeffrey Sachs Center, Sunway University. Ia juga merupakan Associate dari Harvard University Asia Center. Minat penelitian Chun Sheng terletak pada persimpangan pengembangan bio-ekonomi dan restorasi lingkungan, dengan fokus khusus pada Kalimantan Malaysia dan Indonesia.






Untuk menemukan data Result Hk bersama dengan enteng kamu bisa mengetikkan hongkong pools pada mesin pencarian kesayangan kamu yaitu google. hk yang keluar yang akan anda dapatkan terhadap situs Hongkong Pools adalah yang paling formal karena merupakan web resmi permainan toto hk . Namun sayangnya para provider internet di Indonesia memblokir website ini atas perintah Pemerintah Indonesia. Sehingga kamu cuma bisa terhubung web site Hongkongpools bersama dengan manfaatkan VPN. Hongkong pools adalah institusinya. Hongkong prize merupakan angka jackpot yang ada di hari tersebut pada tabel pengeluaran hk kami.

Totobet hk pools adalah institusi lotre yang dimiliki oleh Negara Hongkong. Pemerintah hongkong membangun website ini supaya para pemain togel online di negara mereka tidak ulang tertipu bermain bersama togel sdy hari ini yang tidak terpercaya. Banyak bandar togel hongkong di masa itu yang mengakibatkan keluarannya sendiri dan tidak sudi membayar kemenangan para member. Hal ini ditangani oleh Pemerintah Hongkong bersama membangun institusinya sendiri. Dengan begitu permainan toto hongkong bisa dimainkan bersama dengan ringan di bermacam agen togel hk yang tersebar di Indonesia. Situs Result HK pools ini bisa anda akses cuma bersama dengan gunakan VPN dan Proxy.

keluaran sgp di Negara asalnya dimainkan bersama memakai 6 angka dibelakang. Biasanya sistem ini disebut sebagai permainan togel 6D. Namun bandar togel online di Indonesia menggunakan 4D angka sehingga lebih mudah. Angka ini berasal berasal dari hongkongpools hongkong 1st Prize yang biasa digunakan agen toto HK Prize. Ini digunakan sebagai acuan untuk menentukan siapa pemenang.

Salam Hoki !!!!!! berasal dari kita untuk seluruh togelers yang telah join dan telah turut nikmati Data Togel hongkong yang telah kami sajikan. Temukan juga bersama partner kita Info togel hongkong yang akurat dan pas waktu.